UTUH DAN DIANG

Langit terlihat gelap gulita, sudah sejak tadi awan gelap menutupi sinar sang surya ditambah hawa dingin seakan menusuk ke sumsum tulang. Sudah hampir 2 bulan belum ada kabar dari bang Utuh, sejak ku kirim surat terakhir yang bertepatan dengan hari jadi pernikahan kami, entah apa yang terjadi pada Utuh di negeri orang? Biasanya bang Utuh selalu membalas setiap surat yang ku kirimkan kepadanya, pikiranku mulai melayang kesana kemari.  Gelisah, bingung, sedih semuanya bercampur aduk menjadi satu,  asa dan pikiranku terus menerawang, apa yang dilakukannya disana? apakah dia masih memikirkan aku atau tidak? Entahlah. Bahkan terkadang aku lelah dengan semua penantian panjang yang tak tentu saat ini, tapi disisi lain aku tak bisa mengungkiri rasa sayang ku yang teramat dalam pada bang Utuh membuat aku tetap bertahan dengan semua penantian panjang yang mungkin tak berujung.

Hari itu tanggal 10 november 2007, tak akan pernah ku lupakan kejadian dimana bang Utuh  memutuskan untuk mencoba merantau ke negeri seberang.

“Abang, apakah tak kau pikirkan lagi keputusan mu ini, meningggalkan aku beserta anakmu yang masih kecil? tak kasihan kah abang dengan buah hati kita…”

“Keputusan abangmu ini sudah bulat adinda, abang merantau ke negeri seberang semata-mata untuk Diang dan Saleh, anak kita.”

“Abang yakin? Diang merasa ada yang mengganjal dengan kepergian abang, Diang merasa berat melepaskan abang pergi merantau ke negeri orang.” 

“Diang ku sayang, abang sangat yakin seyakin-yakinnya dengan keputusan abangmu ini, abang ingin memberikan kebahagian kepada Diang dan anak kita Saleh, oleh sebab itu abang coba untuk ikut dengan paman mu merantau ke negeri orang.”

Dengan berat hati ku antarkan abang menuju pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Kali ini Saleh tak ikut bersama kami, dia hari ini belajar ngaji dengan ustadz Bahrun, aku juga sebernarnaya tak mau mengajak Saleh mengantarkan bapaknya pergi ke pelabuhan, aku tak sanggup melihat raut muka sedih yang terpancar diwajahnya yang melepaskan bapaknya pergi merantau ke negeri seberang, makanya aku tak mengajaknya tapi kusuruh dia untuk ikut ngaji bersanma temann-tamannya dirumah ustadz Bahrun, namun sebenarnya aku tau saleh sangat ingin mengantarkan bapaknya. Perlahan, kapal KMP kolibodri meninggalkan pelabuhan Trisakti, dari atas dek kapal bang Utuh melambaikan tangan tanda perpisahan,ku balas dengan lambaian tangan yang disertai tetesan air mata dan kesedihan yang mendalam, ”Semoga Abang sukses di negeri seberang, doa Diang selalu menyertaimu.”

Tak ayal sang surya kembali menyembunyikan sinarnya berganti dengan cahaya rembulan,  Aku duduk disebuah kursi reot tua beranyamkan bambu bercahayakan lampu teplok dan sedikit cahaya rembulan yang masuk melalu cela-cela fentilasi. Teringat akan kenangan manis waktu masih bersama abang Utuh dahulu, ya..kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan, abang Utuh hanyalah seorang pekerja serabutan, ya… hanya seorang buruh panggul dan terkadang sembari berdagang sayur dipasar terapung,Banjarmasin. Itupun merupakan hasil dari kebun sayur kami yang ada dibelakang rumah yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sedangkan aku hanyalah seorang ibu rumah dan buruh cuci baju, tapi untunglah kami masih punya sepetak sawah yang masih bisa kami garap walaupun tak begitu luas hitung-hitung masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga.  

“Bu…lapar” sentak suara itu membuyarkan lamunanku,

“iya nak sebentar…”(berjalan menuju ke dalam rumah)

“eemm…anak ibu yang ganteng satu ini lapar rupanya,,,”(membelai kepala Saleh)

“tunggu ya nak..ibu ke dapur sebentar”. Cuma ada tahu dan tempe serta seikat sayur kangkung yang bisa dimasak untuk makan malam kali ini, pikirku.

“Bu..kapan bapak pulang?”,

pertanyaan Saleh tadi sentak membuatku terdiam,Aku kembali teringat dengan abang Utuh yang jauh merantaui ke negeri orang, aku bingung harus ku jawab apa pertanyaan dari Saleh kalau ku katakan yang sebenarnya aku tak mau menyakti perasaan Saleh,, sebenarnya bukan cuma kali ini saja Saleh menanyakan kabar dari bapaknya, sudah terlalu sering pertanyaan itu terlontar dari mulut Saleh, tapi aku selalu mengelak untuk tak menjawab pertanyaan darinya dengan mencoba mengalihkan perhatiannya. Aku tau pasti Saleh sangat merindukan bapaknya, ketika abang Utuh pergi Saleh masih berusia tujuh tahun, usia yang sebenarya masih terlalu dini bagi seorang anak seperti Saleh untuk berpisah dengan bapaknya.

“Bu………!”

“Eh..iya nak ada apa?”

“Bapak bu….bapak….,kapan bapak pulang?”

“Sabar ya nak… nanti bapak pasti pulang, bapak juga pasti sudah rindu ingin bersama saleh seperti dulu lagi…,,kan Saleh tau bapak pergi buat carikan uang yang banyak untuk Saleh, biar Saleh bisa sekolah dan jadi anak pintar….”

“Ooooo…iya,,tapi ibu kenapa nangis”

“Enggak papa kok nak…mata ibu cuma perih tadi habis ngupas bawang, yaudah Saleh masuk ke kamar dulu…..,nanti kalau makananya sudah siap ibu panggil Saleh….”

“Ya sudah bu… Saleh masuk ke kamar dulu.”

Miris rasanya melihat semua kesedihan yang terpancar diraut muka Saleh, raut muka yang menggambarkan kerinduan yang teramat sangat dari seorang anak yang ingin berjumpa dengan bapaknya nan jauh disana.

“Utuh..cobalah, kau cek lah apakah barang-barang yang kita pesan kemaren sudah sampai atau belum?”

“Iya…baik juragan.”

“Kalau bisa cepatlah bentar lagi kita berangkat” (beberapa menit kemudian)

“Bagaimana Tuh… sudah kau cek semua?”

“Sudah juragan….semua barang pesanan kita lengkap juragan”

“Ya sudah kalau begitu…langsung kau masukan saja barang-barang tersebut kedalam mobil…kita hari ini akan berangkat berjualan ke kampung kusir”

“Siap juaragan…”

Sudah hampir tiga bulan aku belum memberi kabar kepada Diang….maafkan abang mu ini adinda….abang belum sempat memberikan kabar tentang keberadaan abang mu disini…abang masih terlalu sibuk dengan pekerjaan abang saat ini. Apalagi sekarang abang berjualan tidak menetap seperti dulu lagi sekarang abang bersama dengan juragan abang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainya jadi abang sulit untuk memberikan kabar keberadaan abang saat ini, bahkan abang sudah tak bersama pamanmu lagi sudah lama abang perpisah dengan pamanmu, tapi bukan berarti abang tak rindu dengan kalian semua, abang sangatlah rindu padamu Diang, terutama Saleh,anak kita. Pasti sudah besar dia sekarang. Saleh maafkan bapakmu ini yang tega meninggalkan mu saat kamu masing kecil, tapi bapak janji sebentar lagi bapak bakal pulang nak, dan bapak akan membawakan kamu uang yang banyak, biar kamu bisa hidup lebih layak lagi dan meneruskan sekolah kamu nak…agar kelak jadi anak yang pintar dan berbakti pada orang tua. 

“Utuh kenapa kau ini.. malah ngelamun saja…cepatlah sedikit…kita sudah mau berangkat ini.”

“Iya juragan..maafkan saya juragan.”

Kenapa pikiranku jadi kacau seperti ini, aku terus terbayang-bayang wajah Diang nan jauh disana…aku tak boleh terus seperti ini, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini, agar aku bisa pulang dan bertemu dengan Diang dan Saleh, anakku.

“ Permisi bu…bisa minta tolong sebentar?”

“Iya ada apa ya pak?”

“Begini bu…saya mau nanya alamat, ibu tau jalan Sungai Lulut, RT 04 RW 28 kampung Cempaka Putih?”

“Ohh..iya pak saya tau,, itu dekat saja dari sini…mari saya antar”

“Iya…terima kasih bu”

“Oh ya..kalau boleh tau, maaf ni sebelumnya, memangnya ada apa ya bapak mau cari alamat itu, kalau tidak salah itu alamat ibu Diang kan?”

“Ohh…ibu kenal rupanya sama ibu Diang,,iya saya memang sedang mencari Diang, saya ini teman masa kecil Diang.”

“Eehhh…begitu, ya semua orang disini kenal dengan ibu Diang orangnya baik,ramah lagi tapi sekarang kasihan dia, suaminya sekarang meninggalkan dia bersama dengan anaknya yang masik kecil.”

“Maksudnya cerai, begitu bu?”

“Bukan pak…begini lo suaminya itu katanya merantau ke negeri orang, tapi sudah hampir 3 bulan terakhir sudah tidak ada kabar keberadaanya lagi.”

“Oh begitu ya bu…”

“Ini pak rumahnya..”

“Iya bu…makasih banyak bu sudah mau menagntarkan saya, maaf merepotkan sebelumnya”

“Iya sama-sama kok pak, saya permisi dulu pak, bapak tinggal ketok aja pintunya biasanya jam segini ibu Diangnya ada dirumah. Ya sudah saya permisi pamit pak, mari….”

“Iya, sekali lagi terima kasih banyak bu….”

“Iya pak sama-sama….”

(tok….tok…tok…)

“Assalamualaikum..permisi mba?”(tok…tok….tok…)

“Permisi mba?”atau jangan-jangan Diang sedang pergi keluar

“Iya…tunggu sebentar….?” ku buka pintu dan aku tersentak, terdiam akau melihat sesosok makhluk yang berdiri persis dihadapanku . Makhluk yang sudah tak asing lagi bagiku.

“Mas rangga kan?” tanyaku

“Iya…ternyata kamu masih ingat denganku Diang, setelah sekian lama kita tak bertemu lagi..”

“ Eeehh….silahkan masuk mas…nda enak diluar ngobronya.”

“Iya…”

“Silahkan duduk mas….maaf agak sedikit berantakan.”

“Oh…iya enggak papa kok santai aja.”

“Mau dibikinkan minum apa?,teh,kopi atau…”

“Eemmm apa aja…maaf jadi enggak enak kedatangan ku kesini malah ngerepotin kamu Diang.”

“Enggak kok mas….aku enggak merasa direpotin..malah aku seneng ada yang mau bertamu kerumah aku yang sekecil ini, tunggu sebentar mas aku kebelakang dulu mau bikinin minum sebentar”

“iya……..”

Astaga Tuhan mimpi apa aku semalam tiba-tiba mas Rangga datang, Mas Rangga adalah orang yang sangat mencintai aku sewaktu kami masih sekolah MA( Madrasah Aliyah), tapi aku dulu tidak mencintainya dan aku lebih memilih bang Utuh untuk menjadi imamku dan sekarang tiba-tiba disaat seperti ini mas Rangga muncul dihadapanku.

“Maaf mas agak lama bikinnya…kasihan jadi nunggu sendirian, silahkan diminum tehnya dan di icip kuenya, tapi ya maaf mas cuma seadanya……”

“Enggak papa kok Diang, ini juga sudah lebih dari cukup lagian aku juga sudah senang bisa tau rumah kamu dan mampir disini….”

“Kalau boleh tau………. sekarang mas Rngga kerja dimana?udah beristri?”

“Saat ini aku bekerja sebagai konsultan disalah satu perusahaan swasta yang ada di Banjarmasin,,kalau beristri sih aku sudah beristri dan dikaruniai satu putri, Sila namanya.”

“Terus kenapa istri mas enggak diajak sekalian kesini.”

“Istri saya sudah meninggal sekitar 1 tahun yang lalu…akibat kanker paru-paru yang diidapnya.”

“Maaf mas saya enggak tau kalau istrinya mas udah meninggal, gara-gara saya mas jadi sedih,,,sekali lagi saya minta maaf mas sebelumnya.”

“Iya enggak papa kok…aku sudah biasa ditanya hal yang seperti itu,,,,eemmm ternyata kamu tidak berubah ya…masih tetap seperti dulu, LUGU….beruntung sekali pria yang menikah denganmu, bisa punya istri sebaik kamu..eemmm sekarang katanya kamu sudah berkeluraga Diang.”

“Iya mas aku sudah berkelurga, aku dikaruniai satu anak, namanya Saleh.”

“Terus sekarang suami kamu kemana? Kerja.”

“Sekarang suami aku sedang merantau mas kenegeri orang, dan sudah hsmpir 3 bulan ini enggak ada kabarnya sama sekali”(hiks….hks….hiks….)

“Sudah-sudah jangan sedih maaf kalau pertanyaan aku tadi membuatmu jadi sedih.”

“Iya mas enggak papa.”

            Sejak saat itu mas Rangga sering main kerumah, terkadang sesekali mengajak Sila anaknya kesini, bahkan terkadang mas Rangga sering mengajak aku dan Saleh beserta Sila pergi dan makan diluar, sebenarnya aku berat untuk menerimanya ajakan dari mas Rangga takut nanti tetengga berpikir yang tidak-tidak, tapi disatu sisi aku tak tega menolak ajakan mas Rangga karena dia adalah sahabatku waktu dulu. Aku jadi teringat masa lalu, ya aku dulu sangat dekat dengan Rangga tapi sejak kami lulus MA, aku dan dia sudah jarang bertemu bahkan tidak sama sekali. Aku menikah dengan bang Utuh sedangkan dia katanya melanjutkan pendidikanya di luar negeri. Aku kembali teringat ketika dia bilang suka padaku, tapi pada saat itu aku menolaknya, aku sudah menganggap dia sebagai sahabat terbaikku dan saat itu aku juga sudah jatuh cinta denga pria lain,,dia adalah bang Utuh yang sekarang menjadi suamiku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan kabar dari bang Utuh tak kunjung datang,  hingga suatu hari kabar yang tak mengenakkan itu datang kepadaku, kabar yang sangat menyayat hati dan perasaanku, dunia seakan runtuh…betapa tidak sepucuk surat dari juragan tempat bang Utuh bekerja yang isisnya mengantakan bahwa bang Utuh telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang menimpanya.

“Diang…suster diang sudah sadar suster,,,syukurlah kamu sudah sadar Diang…”

“Memangnya aaku ini dimana tante?”

“Kamu ini lagi dirumah sakit…. sudah 3 hari ini kamu tidak siuman”

“Oh..ya bang Utuh tante ,bagaimana dengan bang Utuh, Diang mau bertemu bang Utuh tante”(hiks…..hiks……hiks…….hiks…..)

“ Diang bang Utuh sudah beristirahat dengan tenang dialam sana, bang Utuh sudah dimakamkan disamping kuburan almarhum ibunya”

“TIDAK………bang Utuh…………….kenapa kau tega meninggalkan Diang  seperti ini…kau tega bang Utuh…….”(hiiiiiiiiiiiiihiks…hiks)

“Yang sabar ya nak…mungkin ini sudah suratan takdir dari yang diatas, tante yakin Ding anak tetap tegar menghadapi cobaan yang diberikan kepada Diang saat ini,,tante akan sealu ada untuk diang” (sembari merangkul diang).”

            Sejak kepergian bang Utuh, aku dan Saleh hidup bersama dengan tante yang menyayangiku. Mungkin ini sudah suratan dari Sang Pencipta, bang Utuh yang sangat ku cintai harus pergi terlebih dahulu meninggalkan kami, dan tentang mas Rangga? sebenarnya sebelum kabar dari meninggalnya bang utuh mas Rangga sempat melamarku,tapi ku tolak, bagiku rasa sayang dan cintaku ini hanya kan ku berikan untuk satu orang didalam hidupku dan ku putuskan untuk tetap mencintai bang Utuh selamanya hingga jasad ini tak bernyawa dan meninggalkan kenangan manis beserta cerita cinta yang akan abadi untuk selamanya. 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s